Minggu, Februari 13, 2011

Studi Perilaku Harian Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Daerah Intertidal Pantai Bama

BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang Penelitian
Indonesia adalah Negara yang kaya akan berbagai jenis satwa liar, salah satunya adalah Primata. Dari sekitar 195 jenis primata yang ada, 40 jenis ditemukan di Indonesia, dan 24 jenis diantaranya merupakan satwa endemik yang hanya hidup di Indonesia.
Sejarah paleofauna menunjukkan bahwa dua jenis primata telah punah dari pulau Jawa, yaitu Orangutan (Pongo pygmaeus), dan Siamang (Hylobates sydactilus) (Whitter, et.al.,1988 dalam Haryanto, 1992). Saat ini terdapat 5 jenis primata di Pulau Jawa yaitu Owa Jawa (Hylobates moloch), Suruli (Presbytis aygula), Kukang (Nycticebus coucang), Lutung Hitam (Trachypithecus auratus), dan Monyet ekor Panjang (Macaca fascicularis). Macaca fascicularis merupakan salah satu jenis primata endemik yang dapat ditemukan di Kalimantan, Sumatera, Jawa, Sulawesi dan pulau-pulau kecil lainnya (Napier dan Napier, 1985).
Taman Nasional Baluran merupakan salah satu hutan konservasi yang berada di Jawa Timur dan memiliki keragaman ekosistem hutan seperti hutan primer dan hutan sekunder yang disukai Macaca fascicularis sebagai tempat bersarang (Rowe 1996), serta hutan mangrove yang berada di pantai Bama. Di wilayah Pantai Bama Macaca fascicularis biasa mencari makan hingga ke arah laut. Macaca fascicularis yang hidup di daerah hutan mangrove pada umumnya turun ke tanah pada saat air laut surut untuk memakan kepiting atau jenis moluska lainnya (Diar, 2010).
Macaca fascicularis merupakan salah satu satwa penghuni hutan yang memiliki arti penting dalam kehidupan di alam. Keberadaan Macaca fascicularis tidak hanya sebagai penghias alam, namun penting artinya dalam regenerasi hutan tropik (Supriatna, J. dan E. Hendras W. 2000). Di habitatnya Macaca fascicularis dapat menjalankan fungsi ekologisnya. Yakni, sebagai penyemai biji tanaman buah yang penting bagi konservasi jenis tumbuhan di habitatnya. Selain itu Macaca fascicularis juga sebagai pengendali populasi serangga yang merugikan, dengan cara memangsanya (Seponada, Firman., 2010). Sejak tahun 70-an di dalam tubuh Macaca fascicularis sering ditemukan antibody untuk virus-virus tertentu. (Supriatna, J. dan E. Hendras W. 2000).
Monyet ekor panjang di kawasan pantai Bama hidup dalam populasi yang besar. Sangat disayangkan ketika penelitian dan data mengenai perilaku hewan ini, khususnya di kawasan pantai Bama, masih kurang. Sehingga pengetahuan mengenai aspek biologi, kegunaan dan konservasinya juga terbatas. Hasil penelitian yang akan dilakukan diharapkan dapat digunakan sebagai acuan kegiatan pengendalian populasi dan pendataan monyet ekor panjang di kawasan pantai Bama. Selain itu data tersebut juga disajikan secara deskriptif untuk mengetahui secara umum perilaku harian Macaca fascicularis di daerah intertidal Pantai Bama.

1.2         Rumusan Masalah
Dari latar belakang penelitian diata, rumusan masalah yang diangkat adalah:
1.      Bagaimanakah perilaku harian Macaca fascicularis di daerah intertidal Pantai Bama?
2.      Bagaimanakah jadwal aktivitas harian Macaca fascicularis di daerah intertidal Pantai Bama?
3.      Bagaimana perilaku interaksi Macaca fascicularis antar individu dalam beraktivitas di daerah intertidal Pantai Bama?



1.3         Hipotesis Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, hipotesis penelitian yang dapat ditarik antara lain:
1.      Hipotesis nol (H0) :
a.    Terdapat jadwal khusus aktivitas Macaca fascicularis di daerah intertidal Pantai Bama.
2.      Hipotesis alternatif (Ha) :
a.    Tidak terdapat jadwal khusus aktivitas Macaca fascicularis di daerah intertidal Pantai Bama.

1.4         Tujuan
Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk:
1.      Mengetahui perilaku harian Macaca fascicularis di daerah intertidal Pantai Bama.
2.      Mengetahui jadwal aktivitas harian Macaca fascicularis di daerah intertidal di Pantai Bama.
3.      Mengetahui perilaku interaksi Macaca fascicularis antar individu dalam beraktivitas di daerah intertidal Pantai Bama.

1.5         Manfaat
1.      Untuk Taman Nasional Baluran
a.       Memperoleh masukan berupa data yang dapat membantu pengembangan studi kasus di lapangan sesuai dengan bidang penelitian yang dilakukan.
b.      Sebagai Referensi mengenai pengendalian populasi dan pendataan Macaca fascicularis di daerah intertidal pantai Bama.
c.       Mendapat informasi lanjut mengenai aspek biologi, kegunaan dan konservasi Macaca fascicularis di daerah intertidal Pantai Bama.
d.      Mendapat data untuk keperluan pengelolaan dan penentuan kebijakan Pantai Bama Taman Nasional Baluran.
2.      Untuk Universitas
a.       Menjalin kerja sama dan saling mengenal antara Taman Nasional Baluran dengan Universitas Airlangga.
b.      Memperoleh data mengenai perilaku makan dan perilaku interaksi Macaca fascicularis yang dapat dimanfaatkan dalam penelitian selanjutnya.
3.      Untuk Mahasiswa
a.       Memperoleh pengalaman mengenai aspek biologi, kegunaan dan konservasi Macaca fascicularis di daerah intertidal Pantai Bama.
b.      Memperoleh data mengenai perilaku harian dan perilaku interaksi Macaca fascicularis yang dapat dimanfaatkan dalam penelitian selanjutnya.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Tinjauan Umum mengenai Perilaku Satwa
Menurut konsep adaptasi biologis, perilaku merupakan fungsi adaptasi morfologis dan fisiologis suatu satwa (Scott, 1972). Perilakusatwa juga dapat didefinisiskan sebagai semua pergerakan atau gaya yang dilakukan satwa yang dipengaruhi oleh hubungan satwa tersebut dengan lingkungannya (Leger, 1992). Batasan perilaku satwa yang ditimbulkan oleh semua faktor yang mempengruhinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi hal tersebut adalah adanya rangsangan disebut sebagai respons.
Beberapa pola perilaku dapat terorganisir dalam satu sistem perilaku. Scott (1972) mendefinisikan suatu system perilaku sebagai kumpulan pola perilaku yang mempunayai fungsi umum yang sama. Selanjutnya Scott (1972) mengemukakan juga bahwa terdapat sembilan system perilaku satwa, yaitu:
1.        Perilaku makan dan minum (ingestif)
2.        Perilaku mencari tempat berlindung (shelter seeking)
3.        Perilaku yang berhubungan dengan konflik antar satwa (agonistik)
4.        Perilaku seksual
5.        Perilaku perlindungan induk terhadap anaknya (epimeletik)
6.        Perilaku membuang kotoran (eliminatif)
7.        Perilaku untuk meminta perlindungan induknya (et-epimeletik)
8.        Perilaku meniru sesamanya (allelomenetik)
9.        Perilaku memeriksa lingkungannya (investigatif)




2.2  Tinjauan Umum mengenai Macaca fascicularis
Secara hierarki tingkat taksonnya, Macaca fascicularis termasuk dalam:
Kerajaan
:
Animalia
Filum
:
Chordata
Kelas
:
Mammalia
Ordo
:
Primatas
Famili
:
Cercopithecidae
Genus
:
Macaca
Spesies
:
M. fascicularis (Raffles, 1821)


Dalam ranah ilmiah hewan ini populer dengan sebutan Macaca fascicularis, namun juga memiliki sebutan lain, misalnya di Asia-tenggara terkenal dengan Crab-eating Macaque atau monyet pemakan kepiting, ada pula yang menyebut Long-tailed Macaque atau monyet ekor panjang.
Secara morfologi umum, Macaca fascicularis memiliki panjang tubuh berkisar antara 385-648 mm. Panjang ekor jantan dan betina antara 400-655 mm. Berat badan jantan dewasa berkisar antara 3,5-8 kg, sedangkan berat badan betina dewasa sekitar 3 kg. Warna tubuh bervariasi, mulai dari abu-abu sampai kecoklatan, dengan bagian ventral berwarna putih. Anak yang baru lahir berambut kehitaman (Diar, 2010).

2.3  Tinjauan Umum mengenai Perilaku Macaca fascicularis
Primata mempunyai perilaku yang lengkap yang digunakan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan anggota kelompok lain. Perilaku komunikasi ini berkembang karena primata adalah hewan sosial (Rowe, 1996).
Macaca fascicularis bersifat sosial dan hidup dalam kelompok yang terdiri atas banyak jantan dan banyak betina (multi male-multi female). Dalam satu kelompok, Macaca fascicularis terdiri atas 20-50 individu (Bercovitch & Huffman 1999). Jumlah individu setiap kelompok ditentukan oleh predator, pertahanan terhadap sumber makanan, dan efisiensi dalam aktivitas mencari makan (McFarland 1993).
Perilaku harian Macaca fascicularis di alam terdiri atas 35% untuk makan, 20% penjelajahan, 34% istirahat, 12% untuk grooming, dan kurang dari 0,5% untuk aktivitas lainnya. (Santosa, 1996).
1.      Perilaku Makan
Aktivitas makan atau foraging merupakan aktivitas mencari makan dan memegang makanan. Urutan pada aktivitas makan, dimulai dengan mencium pakan terlebih dahulu, kemudian digigit dengan mulut atau mengambil pakan yang telah digigit dengan satu atau kedua tangannya. (Asnawi, 1991). Menurut Prakkasi, (1999) penciuman merupakan detector utama dalam mencari pakan oleh seekor hewan. Sutardi (1980) menambahkan bahwa pada saat memilih pakan, seekor hewan dengan nalurinya akan memilih bahan pakan yang tinggi nilai gizinya, tidak membahayakan kesehatannya, juga memiliki bau dan cita rasa yang sesuai dengan seleranya.
Ekornya yang panjang hingga melebihi panjang tubuhnya, dimanfaatkan Macaca fascicularis sebagai alat keseimbangan serta mendukung aktivitas pada saat mencari makan di cabang pohon yang kecil (Crockett & Wilson 1980).
Secara umum Macaca fascicularis memiliki kecenderungan untuk menguasai makanan sebanyak-banyaknya walaupun tidak mampu menghabiskan semuanya. Banyaknya makanan yang dikumpulkan berhubungan dengan keinginannya untuk dapat menunjukkan kekuatannya terhadap individu lain. Seringkali hal ini yang memicu terjadinya perkelahian. Bila ada makanan yang lebih disukai maka Macaca akan meninggalkan makanan sebelumnya (Putra et al. 2000).
Di lingkungan alaminya, monyet ekor panjang bersifat frugivor dengan makanan utamanya berupa buah (Cowlishaw & Dunbar 2000). Kriteria buah yang dipilih oleh monyet biasanya dilihat berdasarkan warna, bau, berat buah, dan kandungan nutrisi (Gautier-Hion 1988). Selain buah, jenis makanan yang biasa dikonsumsi Macaca fascicularis adalah daun, umbi, bunga (Hasanbahri et al. 1996), biji, dan serangga (Hadi et al. 2007).
Monyet ekor panjang biasanya mengambil makanan dengan kedua tangannya atau langsung menggunakan giginya (Wheatley 1980). Dalam keadaan tergesa-gesa biasanya monyet ekor panjang akan memasukkan makanan ke dalam kantong pipi. Apabila keadaan sudah aman, maka makanan akan dikeluarkan kembali untuk dikunyah dan ditelan (Putra et al. 2000).
Beberapa penelitian menunjukkan bukti bahwa monyet ekor panjang yang aktif dalam mencari makan dapat berenang (AnominusA, 2011) dengan baik untuk mencari siput dan sumber makanan dibawah air lainnya. Mereka biasa mengumpulkan makan dalam jumlah yang banyak dan dapat mencari makan dimana saja. Sebagai hewan perenang yang baik, mereka juga memahami tanda-tanda air pasang ketika mencari makan diperairan laut ataupun pantai. Secara naluriah, sang pemimpin kelompok akan memperingatkan yang lainnya untuk meninggalkan tempat tersebut yang dianggap berbahaya.

2.      Perilaku Istirahat
Berdasakan pola aktivitasnya, Macaca fascicularis digolongkan menjadi primata yang diurnal (aktif pada siang hari). Dan pada umunya akan beristirat pada tengah hari ataupun tengah malam (Rowe,1996)
Macaca fascicularis tidur pada malam hari diatas pohon, ada yang membuat sarang ada pula yang tidak. Dapat diketahui bahwa ada individu yang tidur diatas pohon yang tinggi dan yang tidak ditumbuhi liana (Anonimusb, 1984 dalam Nursahid, 1996). Keadaan pohon tempat tidur berhubungan dengan aktivitas makan dan pertahanan hidup terhadap musuh alami berupa predator, parasit, dan penyakit (Kartikasari, 1986).

3.      Perilaku Kawin
Macaca fascicularis betina umumnya menunjukkan perubahan-perubahan perilaku yang berkaitan dengan perubahan fisologis selama estrus. Betina sering menunjukkan ketanggapan atau kesediaan seks terhadap hewan jantan. Ketanggapan seks (reseptivitas) adalah kesediaan betina untuk mngadakan kopulasi. Kesediaan seks (proseptivitas) adalah semua perilaku yang dilakukan betina untuk memulai interaksi seks (Beach, 1976 dalam Galdikas, 1986).
Betina biasanya memberikan tanda undangan seksual kepada jantan dengan memperlihatkan pantat pada hewan lain dan mengangkat ekornya. Mungkin menambahi sikap ini dengan berjongkok sedikit, melihat ke belakang dan vocaizing. Tetapi hal ini juga dapat diberikan antara binatang dengan jenis kelamin yang sama (Chalmers, 1979).
Betina pada beberapa monyet dunia lama dan kera melakukan pendekatan yang ditujukan untuk pejantan dewasa. Kopulasi biasanya terjadi dengan posisi ventro-dorsal. Yaitu primata jantan menaiki primata betina dari bagian punggung. Betina tetap berdiri, berbaring atau meringkuk, tergantunng pada spesiesnya dan keduanya mempertahankan posisi tersebut posisi tersebut sampai terjadi intromisi (Chalmers, 1979).

4.      Perilaku Grooming
Menurut Kartikasari (1986), grooming adalah kegiatan merawat dan mencari kutu yang merupakan perilaku sosial yang umum dilakukan oleh kelompok primata.
Grooming dilakukan dengan menggunakan kedua tangannya untuk mengambil, menggosok, menyisir, dan mencari kutu di semua rambutnya. Prosimian mempunyai cara grooming yang khas yaitu dengan menggunakan giginya yang seperti sisir, sedangkan primata lainnya kebanyakan menggunakan tangan. Ada dua macam cara grooming yaitu allogrooming yang dilakukan dengan hewan lainnya, dan autogrooming yang dilakukan sendiri (Chalmers, 1979). 
5.      Perilaku Bermain (Playing)
Selama tahun pertama dan kedua, bayi dari beberapa monyet dunia lama sering membentuk kelompok bermain. Seiring dengan peningkatan usia, bayi jantan mempunyai lebih banyak bagian permainan dalam kelompok bermain ini daripada betina. Bayi betina cenderung menghabiskan waktu mereka dengan ibu mereka, betina dewasa yang lain atau bayi baru yang lain (Chalmers, 1979).

6.      Perilaku Lain-lain
Merupakan aktivitas bersembunyi dan aktivitas lain yang tidak teridentifikasi.











2.4  Tinjauan Umum mengenai Pantai Bama di TN Baluran
Pantai Bama merupakan salah satu pantai di dalam kawasan Taman Nasional Baluran dengan letak geografis 7°29’ - 7°55’ LS, 114°17’ - 114°28’ BT.

Gambar 2. Lokasi Pantai Bama dari foto satelit
Pantai Bama berbatasan dengan Pantai Kelor di bagian selatan dan di bagian utara berbatasan dengan Pantai Cemara. Perairan Pantai Bama berada di perairan selat Bali dengan rentangan pasang surut yang tidak terlalu besar (sekitar 2 m). Pantai Bama memiliki pasir berwarna putih. Deburan gelombangnya relatif kecil. Pantai Bama merupakan rataan terumbu karang (reef flat) yang sangat landai. Setelah memasuki daerah subtidal tampak adanya dasar pantai dengan kemiringan yang sangat terjal, sampai kedalaman puluhan meter. Daerah pasang surut pantai Bama meliputi garis pantai sepanjang 2,5 km dengan lebar daerah pasang surut (intertidal zone) 200-500 meter jika dihitung dari batas pasang maksimal dengan batas surut maksimal. Pantai Bama bagian selatan dimulai dari garis pantai menuju ke arah subtidal ditandai oleh substrat lumpur dengan komunitas yang didominasi oleh hutan bakau (Rhizopora mucronata Lmk) berikutnya pasir berlumpur dengan vegetasi dominan Enhalus acaroides dan terakhir sebelum memasuki zona subtidal berupa batukarang yang komunitasnya didominasi oleh hewan-hewan karang. (Anonimusc, 2010). Tegakkan vegetasi hutan bakau juga merupakan habitat yang disenangi Macaca fascicularis, oleh karena itu di Pantai Bama juga banyak didapati Macaca fascicularis.


BAB III
PROSEDUR PENELITIAN

1.1  Materi dan Metode Penelitian
1.1.1     Nama Kegiatan
Praktek Kerja Lapangan, dengan judul penelitian Studi Perilaku Harian Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Daerah Intertidal Pantai Bama.

1.1.2     Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Waktu                     : 31 Januari - 7 Februari 2011
Tempat                    : Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur
Alamat                    : Jl. Raya Banyuwangi - Situbondo km 35

1.1.3     Materi Kegiatan
Pengenalan terhadap taman nasional, khususnya pantai Bama dan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Peralatan yang digunakan dalam penelitian antara lain adalah : Alat tulis, untuk mencatat data dilapangan; teropong binokuler, untuk mengamati ataupun mengintai Macaca fascicularis yang sedang beraktivitas, tanpa mendekat; sling psikrometer, untuk mengukur suhu di daerah intertidal Pantai Bama; kamera, untuk mendokumentasikan kegiatan makan Macaca fascicularis di lapangan; buku pegangan, digunakan sebagai buku pedoman dan acuan penelitian dilapangan.

1.2  Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengambilan sampel data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah Simple Probability Sampling, yang diawali dengan melakukan pengambilan data kontrol melalui pengamatan terhadap pemimpin kelompok Macaca fascicularis dan satu atau dua ekor anggota dalam populasi tersebut.
Simple Probability Sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang sama bagi setiap individu dalam populasi Macaca fascicularis tersebut, tanpa memperhatikan umur maupun jenis kelaminnya karena populasi dianggap homogen.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:
1.        Metode Observasi Nonpartisipan, yaitu metode pengambilan data pokok dengan cara mengamati langsung perilaku harian dan perilaku interaksi antar individu Macaca fascicularis, dan peneliti tidak terlibat dalam kegiatan Macaca fascicularis. Perilaku yang diamati adalah:
a.  Aktivitas makan (feeding)
Yaitu aktivitas yang dimulai ketika Macaca menemukan makanan, cara ia memakan atau menyimpan makanan, sampai berhenti makan. Kejadian ini dihitung sebagai satu unit aktivitas.
b.   Istirahat (Immobile)
Yaitu aktivitas diam meliputi berdiri, duduk, dan tidur.
c.   Grooming
Yaitu aktivitas merawat dirinya sendiri atau merawat individu lain. Yang diamati dalam perilaku ini meliputi cara grooming dan lamanya grooming.
d.   Aktivitas main (playing)
Dalam aktivitas main yang diamati adalah lamanya bermain dan lokasi bermain. Aktivitas ini biasanya terjadi pada anak-anak Macaca sampai remaja, perilaku ini meliputi kejar-kejaran, lompat-lompatan, berguling, berayun, berenang, dan latihan baku hantam.
e.   Lain-lain
Yang diamati dalam lain-lain adalah bersembunyi dan aktivitas lain yang tidak teridentifikasi.
2.        Metode Literatur, yaitu pengambilan data pendukung dengan mempelajari literatur, yang berupa buku-buku, diktat ataupun bentuk lain yang berhubungan dengan objek yang diteliti guna mendukung penyelesaian PKL sampai dengan penyusunan laporan.
3.        Metode Interview, yaitu pengambilan data pendukung yang berupa wawancara dengan penjaga atau pihak pengelola Pantai Bama - TN Baluran.

1.3  Teknik Analisis Data
Setelah mendapatkan data yang dibutuhkan, peneliti melakukan teknik analisis data statistik deskriptif. Hasil analisis data disajikan dalam bentuk tabel, grafik maupun diagram. Tanpa melakukan uji signifikasi ataupun regresi, sehingga, tidak terdapat taraf kesalahan karena penelitian ini tidak bermaksud untuk membuat generalisasi.

1.4  Hasil Kegiatan
Hasil penelitian ini akan didokumentasikan dalam bentuk laporan tertulis yang akan dipresentasikan dalam forum seminar untuk mendapatkan masukan dan penyempurnaan dalam  penyusunan laporan, dan hasil penyempurnaan (rangkap 4) akan diserahkan kepada pihak Taman Nasional Baluran, Departemen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Unair, dan sebagai arsip untuk mahasiswa.




BAB III
PENUTUP

Kami menyadari pelaksanaan kegiatan ini tidak dapat berlangsung dengan baik tanpa adanya pengertian yang besar dari pihak-pihak yang terkait di lingkungan Universitas Airlangga maupun Taman Nasional Baluran.
Demikian proposal kegiatan yang kami susun. Kami berharap dengan praktek kerja nanti akan didapatkan data-data dari suatu permasalahan yang bisa kami angkat sebagai tema penyusunan laporan praktek kerja. Serta agar dapat diciptakan kesatuan wawasan, pengertian dan gerak langkah antara semua pihak yang terlibat sehingga mampu mewujudkan suatu kondisi yang komunikatif dalam pelaksanaan praktek kerja lapangan tersebut.Apabila terdapat hal-hal yang kurang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan perusahaan maka dapat didiskusikan pada saat awal pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan.Dengan rahmat Tuhan YME dan disertai harapan segala sesuatunya berjalan sebagaimana mestinya, kami berharap bahwa praktek kerja lapangan ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak.




DAFTAR PUSTAKA

Anonimusa, 2011. MONYET EKOR PANJANG DI PULAU PANAITAN. http://duniaveteriner.com/2009/08/monyet-ekor-panjang-di-pulau-panaitan /print(Diakses pada : 11 Januari 2011)

Anonimusb dalam Nursahid, R. 1996. Jenis dan Estimasi Populasi Primata di TAHURA R. Soerjo, Skripsi. FMIPA UNIBRAW. Malang. P. 6-8

Anonimusc, 2010. Berwisata di Pantai Bama, TN Baluran. http://sutadi16.wordpress.com/2010/04/05/berwisata-di-pantai-bama-tn-baluran/ (Diakses pada: 27 Januari 2011)

Asnawi, E. 1991. Studi Sifat-Sifat Biologis Kukang (Nycticebus coucang). Skripsi. Fakultas Peternakan Intitut Pertanian Bogor. Bogor
Bercovitch & Huffman. 1999. dalam Farida, Hilda. 2008. Aktivitas Makan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur. Jakarta: Bogor. Skripsi. Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahun Alam Institut Pertanian Bogor
Chalmers, N. 1979. Social Behaviour in Primates. Contemporary Biology. Edward Arnold. London

Crockett & Wilson. 1980 dalam Farida, Hilda. 2008. Aktivitas Makan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur. Jakarta: Bogor. Skripsi. Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahun Alam Institut Pertanian Bogor

Diar, 2010. Monyet Ekor Panjang. http://diarsiilittleprimata.blogspot.com/2010/  11/monyet-ekor- panjang.html. (Diakses pada : 11 Januari 2011)

Dolhinow & Fuentes, 1999 dalam Farida, Hilda. 2008. Aktivitas Makan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur. Jakarta: Bogor. Skripsi. Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahun Alam Institut Pertanian Bogor
Galdikas, B.M.F. 1986. Adaptasi Orang Utan di Suku Tanjung Putting, Kalimantan Tengah. UIP. Jakarta
Hashimoto. 1991. dalam Farida, Hilda. 2008. Aktivitas Makan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur. Jakarta: Bogor. Skripsi. Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahun Alam Institut Pertanian Bogor
Haryanto. 1992. Primatas of Java : Problems and The Needs For Conservation, Media Konservasi, 3 (4), Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan, IPB, P. 35-36
Kartikasari, S. N. 1986. Studi Populasi dan Perilaku Lutung (Presbytis cristata, Raffles) di Taman Nasional Baluran Jawa Timur. Skripsi. Jurusan Konservasi Suberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. P. 39, 52-53, 74
Leger, D.W., 1992. Biological Foundations of Behaviour. An integrative Approach, Harpen Collins Publisher. New York
McFarland. 1993. dalam Farida, Hilda. 2008. Aktivitas Makan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur. Jakarta: Bogor. Skripsi. Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahun Alam Institut Pertanian Bogor.Parakkasi, A. 1999. Ilmu nutrisi dan makanan ternak ruminant. Universitas Indonesia, Indonesia Press. Jakarta
Putra et al. 2000. dalam Farida, Hilda. 2008. Aktivitas Makan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur. Jakarta: Bogor. Skripsi. Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahun Alam Institut Pertanian Bogor
Rowe, N. 1996. The Pictorial Guide to The Living Primatas. Pogonias Press. New York
Santosa, Y. 1996. Beberapa Parameter Bioekologi Penting dalam Pengusahaan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Media Konservasi, 5 (1). Fakultas Kehutanan IPB. Bogor
Scott, J.P., 1972. Animal Behaviour. 2nd ed. The University of Chicago Press. Chicago

Seponada, Firman., 2010. Hutan Monyet Lembah Sarijo.http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2010/04/25/hutan-monyet-lembah-sarijo/ (Diakses pada : 11 Januari 2011)

Supriatna, J. dan E. Hendras W. 2000. Panduan Lapangan Primata Indonesia. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia
Suratmo, F.G., 1979. Prinsip Dasar Tingkah Laku Satwa Liar. Fakultas kehutanan IPB. Bogor
Sutardi, T. 1980. Landasan Ilmu Nutrisi. Jilid 1. Depatemen Ilmu Makanan Ternak Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor




 



LEMBAR PENGESAHAN

Judul               : Studi Perilaku Harian Monyet Ekor Panjang (Macaca
  fascicularis) di Daerah Intertidal Pantai Bama.
  
Penyusun        : 1.  Nimas Wening Nastiti      NIM. 080810252
2.  Imas Masitho                    NIM. 080810125

Disahkan pada            : 11 Januari 2011, di Surabaya


Menyetujui,

        Dosen Pembimbing PKL                                                            Ketua Departemen Biologi



            Dr. Bambang Irawan                                                              Dr. Alfiah Hayati, M.Kes.
     NIP.19550405 198203 1 004                                                   NIP.19640418 198810 2 001




LEMBAR IDENTITAS PELAKSANA
PRAKTEK KERJA LAPANGAN

1.      Nama lengkap                            : Nimas Wening Nastiti
NIM                                           : 080810252
      Tempat / Tanggal Lahir              : Surabaya, 24 Juli 1990
      Agama                                        : Islam
      Alamat                                       : Jalan Dr. Wahidin S.H., No. 56 a Tuban
      Telepon/HP                                : 085731588399

      Tanda Tangan                            :


2.      Nama lengkap                            : Imas Masitho
NIM                                           : 080810125
Tempat / Tanggal Lahir              : Surabaya, 12 Desember 1990
Agama                                        : Islam
Alamat                                       : Jalan Kejawan Gebang III No. 22 Surabaya
Telepon/HP                                : 085731172313

Tanda Tangan                            :

 

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar